marquee

Fun, Religius, And Knowledge

CLOCK

Kamis, 16 Agustus 2012

CERPENKU LHOO!!!

PELANGIKU
Pelangiku
Kabut pagi yang menutupi gunung kelabu dari pandangan mata itu masih belum juga mencair ketika seorang anak laki-laki dengan sangat tergesa-gesa menerobos semak belukar dan pohon-pohon bambu di belakang sebuah rumah. Pucat seluruh tubuh anak itu dan rambutnya yang putih. Ia terus berlari, dingin yang terbawa hembusan angin menembus kulit wajahnya yang begitu putih pucat.
“Opi……” panggil seseorang dari balik rumpun pohon bambu. Anak laki-laki bernama Opi itu tersentak. Dari suara orang yang memanggilnya itu ia bisa tahu bahwa yang memanggilnya adalah kakaknya.
“Kak Orin……”
 “Aku tanya padamu. Mau kemana kau?”
“Tidak kemana-mana…..” Orin memperhatikan anak itu.
“Aku tahu kau berbohong. Aku sengaja bersembunyi di sini karena aku tahu kau pasti akan berangkat ke sekolah lewat belakang rumah.”
“Tapi Kak, Opi hanya ingin bersekolah.”
“Kau berani sekali. Kau keras kepala sekali. Sudah kubilang beribu-ribu kali kau tidak boleh pergi ke sekolah, tetapi kau tetap saja pergi ke sekolah. Sekarang ayo kembali ke rumah!”
Orin menarik lengan Opi dan memaksanya kembali ke dalam rumah. Opi tidak dapat berbuat apa-apa lagi.
“Kenapa Opi tidak boleh bersekolah, Kak? Opi juga ingin bersekolah seperti teman-teman yang lain.”
 “Untuk apa kau bersekolah? Lagi pula mereka bukan teman-temanmu. Mereka hanya bisa mengolokmu!”
“Opi tidak peduli dengan mereka, tapi Opi juga punya cita-cita dan Opi harus punya modal untuk mewujudkan cita-cita Opi!”
“Cukup Opi! Kakak tidak mau mendengar apa-apa lagi.”
Opi keluar dari rumah dan duduk merenung di bawah pohon jambu yang rimbun daunnya, buahnya pun lebat bergelantungan di sana-sini. Sebagai seorang anak berkelainan gen albino, dia memang sering mendapat ejekan dari orang-orang lain. Tak jarang ia duduk menyendiri di bawah pohon jambu sambil bermain-main dengan dua tokoh pewayangan kesukaannya, yaitu Kresna dan Baladewa. Ia selalu menggambarkan tokoh wayang kakak beradik itu dengan jalan cerita hidupnya. Ia menggambarkan Baladewa sebagai dirinya dan Kresna sebagai orang lain yang selalu memusuhi dan mengolok dirinya. Baladewa mempunyai kulit pucat atau albino seperti dirinya. Sedangkan Kresna mempunyai kulit yang berwarna hitam legam. Opi sangat membenci warna putih pucat.
Setiap hujan turun, ia selalu menunggu dan memandang langit hingga hujan mereda untuk melihat pelangi. Hanya pelangi yang ditunggunya. Warna-warna pelangi itu membuat Opi selalu berharap agar hidupnya bisa lebih berwarna dan bermakna di mata orang lain. Dia tidak ingin hanya jadi bahan olokan dan menjadi orang yang lemah. Tekadnya untuk membuat semua orang mau percaya dan menghargainya sudah bulat. Ia sudah punya pilihan hidup sendiri.
“Opi, Kakak melarangmu untuk pergi ke sekolah karena Kakak menyayangimu. Sungguh! Kakak tidak ingin nasibmu berujung seperti adik kandung Kak Orin yang sekarang sudah tiada.”
“Adik kandung Kak Orin? Kenapa dengan adik kandung Kak Orin?”
“Ah, sudahlah. Pokoknya kamu jangan marah kepada Kak Orin. Walaupun kau kuambil dari jalanan, tetapi kau sudah seperti adik kandungku sendiri. Karena kau memang sangat mirip dengannya. Kau dan dia sama-sama keras kepala, sama-sama punya impian besar yang tidak dapat ku halangi. Apa pun keadaan dirimu, kau adalah adikku. Dan….karena kau sangat keras kepala, aku mengizinkanmu bersekolah. Tetapi ingat, kau harus berhati-hati karena semua orang berpotensi untuk mencelakaimu.” Kata Orin sembari tersenyum.

***
Pagi-pagi sekali sekitar pukul 3 dini hari Opi bangun kemudian sholat Tahajjud. Ia belajar sebentar dan bersiap berangkat ke sekolah. Hari ini Opi sangat bersemangat sekali karena kakaknya memperbolehkannya pergi ke sekolah. Diam-diam Orin merasa bersalah telah melarang Opi pergi ke sekolah sehingga adik angkatnya yang ia pungut dari jalanan itu jarang sekali masuk sekolah, tetapi ia tetap saja merasa khawatir pada Opi jika suatu saat ia bertemu dengan orang jahat yang ingin mencelakainya. Perasaan itu muncul karena ketakutannya pada masa lalu yang telah mengakibatkan adiknya meninggal.
Tiba di sekolah ia segera memasuki kelas dan membersihkan kelasnya. Satu-persatu teman-temannya memasuki ruang kelas dan sama sekali tidak menyapanya tetapi ia tetap tersenyum pada semua orang. Tiba-tiba dua anak laki-laki mendekat padanya.
“Anak iblis kok pergi ke sekolah. Anak iblis tempatnya ya dikuburan!” ejek Anton. Dua kata yang diucapkan Anton itu sudah berjuta-juta kali Opi dengar. Saat Opi masih terlantar di jalanan, sering orang yang melihatnya memanggil Opi dengan sebutan anak iblis. Jadi Opi tidak kaget lagi mendengar ejekan Anton.
“Iya, Anton. Jangan-jangan dia makan anak manusia. Hei, Anton! Hati-hati, nanti kamu dimakan sama si Opi!”
“Terserah apa kata kalian.” Kata Opi.
“Kamu itu bikin kelas jadi tidak serasi!” seru Anton.
 “Kalian tidak tahu apa-apa tentang diriku, jadi kalian diam saja! Kalian lihat saja nanti, aku pasti bisa menjadi seorang profesor yang hebat sepanjang sejarah!” seru Opi.
“Heh, ini hari sudah siang. Masih saja bermimpi.” Olok Anton.
Setelah jam pelajaran usai, Opi langsung pulang sesuai janji kepada kakaknya. Opi menyusuri jalan aspal yang keras dan panas. Panas dari sudut manapun datang menusuk kulit. Di sepanjang jalan ada saja yang Opi dengar dari pejalan kaki lain tentang dirinya.
“Ayah, ibu, aku takut. Ada anak hantu!” teriak seorang anak yang sedang menggandeng tangan ayah dan ibunya.
“Sudahlah, nak. Mari pergi.”
Opi mengawasi mereka dengan pandangan matanya yang sayu. Ia melihat anak kecil itu begitu erat menggandeng tangan ayah dan ibunya sambil tertawa riang. Mata Opi tidak dapat lepas dari pemandangan itu.
Di tengah perjalanannya ia melihat sebuah mobil hitam mengkilat berhenti di depannya, dilihatnya seorang laki-laki melompat turun dari mobil itu.
“Ho, ho…. Kau pasti Opi. Marilah kuantar kau pulang.”
“Hmmm. Maaf, anda siapa?” tanya Opi.
“Aku teman kakakmu, Orin. Saya seorang produser film. Panggil saja saya Pak Rudi” kata orang itu
Sampai di rumah, Opi segera memberitahukan kepada kakaknya akan kedatangan seorang tamu. Begitu tahu bahwa yang datang adalah Pak Rudi, Orin secepat kilat memasang tampang galaknya. Pak Rudi menjelaskan maksudnya untuk mengajak Opi bermain dalam film “White Devil”, karena penampilan fisik Opi sebagai seorang albino, cocok untuk memerankan White Devil, namun Orin tidak mengizinkan Pak Rudi untuk mengajak Opi bermain film.
“Aku sudah meminta kepadamu dengan baik-baik, tetapi kau tidak mempedulikan aku. Padahal kau bisa mendapatkan uang berlimpah, hanya dengan menyerahkan adik pungutmu yang tidak penting dalam hidupmu.” Kata Pak Rudi.
“Memangnya aku ini apa? Seenaknya dipejual-belikan!” Seru Opi.
“Kakak tidak akan menyerahkanmu Opi, kau seperti adik kandungku, yang sudah terjebak dalam lingkaran setan Pak Rudi sementara aku tidak bisa melindunginya, semangat juangmu yang tinggi dan keras kepala mirip sekali dengan sifat adikku. Aku takut kau akan dibawa diam-diam oleh Pak Rudi. Karena itu, aku melarangmu untuk pergi kemana-mana termasuk bersekolah. Maafkan kakak,” Kata Orin
Kemudian setelah itu, Pak Rudi keluar dari rumah Orin. Tetapi lima menit kemudian, mendadak Pak Rudi kembali memasuki rumah bersama beberapa orang dan menyerang Orin, melihat Pak Rudi hendak menyerang Orin, Opi maju dan menghalangi Pak Rudi.
Pertengkaran hebat pun terjadi antara Opi, Orin, dan Pak Rudi.
Pergulatan itu hampir menghancurkan seluruh isi rumah, Opi dan Orin sering melempar barang-barang atau benda apa saja yang dapat dijangkau di dalam rumah kepada orang-orang jahat itu. Pak Rudi mendapat pukulan kursi yang dilempar Opi ke arahnya. Mereka berdua akhirnya lari ke luar rumah dan berlari terus. Dengan begitu orang-orang tersebut tidak berani untuk terus mengejar mereka. Dan sampailah mereka di depan kantor polisi. Sepertinya orang-orang itu tidak mengejar mereka karena sesungguhnya mereka sedang merampok isi rumah Orin.
Polisi dengan sigapnya mendatangi rumah kediaman Orin yang telah diobrak-abrik oleh penjahat. Perampok itu kaget bukan main setelah melihat para polisi.
Setelah polisi menangkap dan membawa produser jahat itu ke kantor polisi, berangsur-angsur jalan keluar menjadi terbuka lebar.
“Kak, Opi sangat berterima kasih kepada kakak, Opi sangat sayang pada kakak.”
“Kakak juga berterima kasih padamu telah menyelamatkan kakak, sekarang tidak ada alasan bagi kakak untuk melarangmu pergi ke sekolah.”
“Apa Kak Orin benar-benar mengizinkan Opi bersekolah? Terima kasih, Kak.”
“Ya, sama-sama.”
“Kak, Opi tidak suka warna putih. Putih pucat yang membosankan seperti tubuhku ini.”
“Opi, walaupun kau seorang albino tetapi kau bukan anak setan yang menyeramkan. Hidupmu sangat berwarna. Warna-warna yang sangat cerah dan indah telah tertoreh pada kanvas hidupmu, indah sekali. Seindah pelangi…….”
Pada akhirnya Orin menyadari bahwa kekurangan yang dimiliki Opi tidak menjadi penghalang untuk meraih cita-citanya. Orin pun mendukung Opi sepenuhnya untuk bersekolah kembali sampai Opi berhasil meraih cita-citanya. Ternyata alangkah indahnya hidup Opi. Layaknya pelangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar