Pelangiku
Kabut pagi yang
menutupi gunung kelabu dari pandangan mata itu masih belum juga mencair ketika
seorang anak laki-laki dengan sangat tergesa-gesa menerobos semak belukar dan
pohon-pohon bambu di belakang sebuah rumah. Pucat seluruh tubuh anak itu dan
rambutnya yang putih. Ia terus berlari, dingin yang terbawa hembusan angin
menembus kulit wajahnya yang begitu putih pucat.
“Opi……” panggil seseorang dari balik rumpun pohon bambu. Anak laki-laki
bernama Opi itu tersentak. Dari suara orang yang memanggilnya itu ia bisa tahu
bahwa yang memanggilnya adalah kakaknya.
“Kak Orin……”
“Aku tanya padamu. Mau kemana kau?”
“Tidak
kemana-mana…..” Orin memperhatikan anak itu.
“Aku tahu kau
berbohong. Aku sengaja bersembunyi di sini karena aku tahu kau pasti akan berangkat
ke sekolah lewat belakang rumah.”
“Tapi Kak, Opi
hanya ingin bersekolah.”
“Kau berani
sekali. Kau keras kepala sekali. Sudah kubilang beribu-ribu kali kau tidak
boleh pergi ke sekolah, tetapi kau tetap saja pergi ke sekolah. Sekarang ayo
kembali ke rumah!”
Orin menarik
lengan Opi dan memaksanya kembali ke dalam rumah. Opi tidak dapat berbuat
apa-apa lagi.
“Kenapa Opi
tidak boleh bersekolah, Kak? Opi juga ingin bersekolah seperti teman-teman yang
lain.”
“Untuk apa kau bersekolah? Lagi pula mereka
bukan teman-temanmu. Mereka hanya bisa mengolokmu!”
“Opi tidak
peduli dengan mereka, tapi Opi juga punya cita-cita dan Opi harus punya modal
untuk mewujudkan cita-cita Opi!”
“Cukup Opi!
Kakak tidak mau mendengar apa-apa lagi.”
Opi keluar dari
rumah dan duduk merenung di bawah pohon jambu yang rimbun daunnya, buahnya pun
lebat bergelantungan di sana-sini. Sebagai seorang anak berkelainan gen albino,
dia memang sering mendapat ejekan dari orang-orang lain. Tak jarang ia duduk
menyendiri di bawah pohon jambu sambil bermain-main dengan dua tokoh pewayangan
kesukaannya, yaitu Kresna dan Baladewa. Ia selalu menggambarkan tokoh wayang
kakak beradik itu dengan jalan cerita hidupnya. Ia menggambarkan Baladewa
sebagai dirinya dan Kresna sebagai orang lain yang selalu memusuhi dan mengolok
dirinya. Baladewa mempunyai kulit pucat atau albino seperti dirinya. Sedangkan
Kresna mempunyai kulit yang berwarna hitam legam. Opi sangat membenci warna
putih pucat.
Setiap hujan
turun, ia selalu menunggu dan memandang langit hingga hujan mereda untuk
melihat pelangi. Hanya pelangi yang ditunggunya. Warna-warna pelangi itu
membuat Opi selalu berharap agar hidupnya bisa lebih berwarna dan bermakna di
mata orang lain. Dia tidak ingin hanya jadi bahan olokan dan menjadi orang yang
lemah. Tekadnya untuk membuat semua orang mau percaya dan menghargainya sudah
bulat. Ia sudah punya pilihan hidup sendiri.
“Opi, Kakak
melarangmu untuk pergi ke sekolah karena Kakak menyayangimu. Sungguh! Kakak
tidak ingin nasibmu berujung seperti adik kandung Kak Orin yang sekarang sudah
tiada.”
“Adik kandung
Kak Orin? Kenapa dengan adik kandung Kak Orin?”
“Ah, sudahlah.
Pokoknya kamu jangan marah kepada Kak Orin. Walaupun kau kuambil dari jalanan,
tetapi kau sudah seperti adik kandungku sendiri. Karena kau memang sangat mirip
dengannya. Kau dan dia sama-sama keras kepala, sama-sama punya impian besar
yang tidak dapat ku halangi. Apa pun keadaan dirimu, kau adalah adikku.
Dan….karena kau sangat keras kepala, aku mengizinkanmu bersekolah. Tetapi
ingat, kau harus berhati-hati karena semua orang berpotensi untuk
mencelakaimu.” Kata Orin sembari tersenyum.
***
Pagi-pagi sekali
sekitar pukul 3 dini hari Opi bangun kemudian sholat Tahajjud. Ia belajar
sebentar dan bersiap berangkat ke sekolah. Hari ini Opi sangat bersemangat
sekali karena kakaknya memperbolehkannya pergi ke sekolah. Diam-diam Orin
merasa bersalah telah melarang Opi pergi ke sekolah sehingga adik angkatnya
yang ia pungut dari jalanan itu jarang sekali masuk sekolah, tetapi ia tetap
saja merasa khawatir pada Opi jika suatu saat ia bertemu dengan orang jahat
yang ingin mencelakainya. Perasaan itu muncul karena ketakutannya pada masa
lalu yang telah mengakibatkan adiknya meninggal.
Tiba di sekolah
ia segera memasuki kelas dan membersihkan kelasnya. Satu-persatu teman-temannya
memasuki ruang kelas dan sama sekali tidak menyapanya tetapi ia tetap tersenyum
pada semua orang. Tiba-tiba dua anak laki-laki mendekat padanya.
“Anak iblis kok
pergi ke sekolah. Anak iblis tempatnya ya dikuburan!” ejek Anton. Dua kata yang
diucapkan Anton itu sudah berjuta-juta kali Opi dengar. Saat Opi masih
terlantar di jalanan, sering orang yang melihatnya memanggil Opi dengan sebutan
anak iblis. Jadi Opi tidak kaget lagi mendengar ejekan Anton.
“Iya, Anton. Jangan-jangan
dia makan anak manusia. Hei, Anton! Hati-hati, nanti kamu dimakan sama si Opi!”
“Terserah apa
kata kalian.” Kata Opi.
“Kamu itu bikin kelas jadi tidak serasi!” seru Anton.
“Kalian tidak tahu apa-apa
tentang diriku, jadi kalian diam saja! Kalian lihat saja nanti, aku pasti bisa
menjadi seorang profesor yang hebat sepanjang sejarah!” seru Opi.
“Heh, ini hari
sudah siang. Masih saja bermimpi.” Olok Anton.
Setelah jam
pelajaran usai, Opi langsung pulang sesuai janji kepada kakaknya. Opi menyusuri jalan aspal yang
keras dan panas. Panas dari sudut manapun datang menusuk kulit. Di sepanjang
jalan ada saja yang Opi dengar dari pejalan kaki lain tentang dirinya.
“Ayah, ibu, aku takut. Ada anak
hantu!” teriak seorang anak yang sedang menggandeng tangan ayah dan ibunya.
“Sudahlah, nak.
Mari pergi.”
Opi mengawasi
mereka dengan pandangan matanya yang sayu. Ia melihat anak kecil itu begitu
erat menggandeng tangan ayah dan ibunya sambil tertawa riang. Mata Opi tidak
dapat lepas dari pemandangan itu.
Di tengah
perjalanannya ia melihat sebuah mobil hitam mengkilat berhenti di depannya,
dilihatnya seorang laki-laki melompat turun dari mobil itu.
“Ho, ho…. Kau
pasti Opi. Marilah kuantar kau pulang.”
“Hmmm. Maaf, anda siapa?” tanya
Opi.
“Aku teman
kakakmu, Orin. Saya seorang produser film. Panggil saja saya Pak Rudi” kata
orang itu
Sampai di rumah,
Opi segera memberitahukan kepada kakaknya akan kedatangan seorang tamu. Begitu
tahu bahwa yang datang adalah Pak Rudi, Orin secepat kilat memasang tampang
galaknya. Pak Rudi menjelaskan maksudnya untuk mengajak Opi bermain dalam film
“White Devil”, karena penampilan fisik Opi sebagai seorang albino, cocok untuk
memerankan White Devil, namun Orin tidak mengizinkan Pak Rudi untuk mengajak
Opi bermain film.
“Aku sudah
meminta kepadamu dengan baik-baik, tetapi kau tidak mempedulikan aku. Padahal
kau bisa mendapatkan uang berlimpah, hanya dengan menyerahkan adik pungutmu
yang tidak penting dalam hidupmu.” Kata Pak Rudi.
“Memangnya aku
ini apa? Seenaknya dipejual-belikan!” Seru Opi.
“Kakak tidak akan
menyerahkanmu Opi, kau seperti adik kandungku, yang sudah terjebak dalam
lingkaran setan Pak Rudi sementara aku tidak bisa melindunginya, semangat
juangmu yang tinggi dan keras kepala mirip sekali dengan sifat adikku. Aku
takut kau akan dibawa diam-diam oleh Pak Rudi. Karena itu, aku melarangmu untuk
pergi kemana-mana termasuk bersekolah. Maafkan kakak,” Kata Orin
Kemudian setelah
itu, Pak Rudi keluar dari rumah Orin. Tetapi lima menit kemudian, mendadak Pak
Rudi kembali memasuki rumah bersama beberapa orang dan menyerang Orin, melihat
Pak Rudi hendak menyerang Orin, Opi maju dan menghalangi Pak Rudi.
Pertengkaran
hebat pun terjadi antara Opi, Orin, dan Pak Rudi.
Pergulatan itu
hampir menghancurkan seluruh isi rumah, Opi dan Orin sering melempar barang-barang
atau benda apa saja yang dapat dijangkau di dalam rumah kepada orang-orang
jahat itu. Pak Rudi mendapat pukulan kursi yang dilempar Opi ke arahnya. Mereka
berdua akhirnya lari ke luar rumah dan berlari terus. Dengan begitu orang-orang
tersebut tidak berani untuk terus mengejar mereka. Dan sampailah mereka di
depan kantor polisi. Sepertinya orang-orang itu tidak mengejar mereka karena
sesungguhnya mereka sedang merampok isi rumah Orin.
Polisi dengan
sigapnya mendatangi rumah kediaman Orin yang telah diobrak-abrik oleh penjahat.
Perampok itu kaget bukan main setelah melihat para polisi.
Setelah polisi
menangkap dan membawa produser jahat itu ke kantor polisi, berangsur-angsur
jalan keluar menjadi terbuka lebar.
“Kak, Opi sangat
berterima kasih kepada kakak, Opi sangat sayang pada kakak.”
“Kakak juga
berterima kasih padamu telah menyelamatkan kakak, sekarang tidak ada alasan
bagi kakak untuk melarangmu pergi ke sekolah.”
“Apa Kak Orin
benar-benar mengizinkan Opi bersekolah? Terima kasih, Kak.”
“Ya, sama-sama.”
“Kak, Opi tidak
suka warna putih. Putih pucat yang membosankan seperti tubuhku ini.”
“Opi, walaupun
kau seorang albino tetapi kau bukan anak setan yang menyeramkan. Hidupmu sangat
berwarna. Warna-warna yang sangat cerah dan indah telah tertoreh pada kanvas
hidupmu, indah sekali. Seindah pelangi…….”
Pada akhirnya
Orin menyadari bahwa kekurangan yang dimiliki Opi tidak menjadi penghalang
untuk meraih cita-citanya. Orin pun mendukung Opi sepenuhnya untuk bersekolah
kembali sampai Opi berhasil meraih cita-citanya. Ternyata alangkah indahnya
hidup Opi. Layaknya pelangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar