marquee

Fun, Religius, And Knowledge

CLOCK

Sabtu, 11 Mei 2013

GUARD!! GUARD!!


GUARD! GUARD!

Yo, teman.  Aku Noi. Aku sedang berjalan sambil bersiul dengan siulan yang payah menuju ke sekolah. Bulan ini keuanganku benar-benar defisit dan aku harap bisa melunasi pembayaran sekolah setidaknya sampai lulus SMA. Aku benar-benar berharap ada pekerjaan untuk menambal kekurangan uang ini. Aku juga harus bertahan hidup.
Kucing: Miiaaaww (aku melihat seekor kucing berbelang jingga di tepi sungai. kucing itu hampir tenggelam di sungai sementara anak-anak kecil mengganggu kucing itu.)
Aku: Hei, hei. Kasihan kucingnya. (Lalu aku mengambil kucing itu dan meletakkannya di daratan. Mata kucing itu berkaca-kaca. Ah, terlalu berkhayal.)
Aku melanjutkan perjalanan ke sekolah dan baru menyadari aku hampir terlambat! Hyyaaaa!!! Aku harus sampai tepat waktu. Gawat sekali! Tapi, tunggu….
seorang bertampang seram sedang mendesak seseorang berseragam kantor di sebuah gang sempit. Aku panik! Tengok kanan, tengok kiri. Uwaaa!! Tidak ada saksi mata. Oh, hanya aku saksi mata jika terjadi pembunuhan. Oh, bodoh! Orang itu belum mati. Aku mengacak-acak rambutku dan menempel-nempelkan diri ke pohon rindang tempatku bersembunyi. Dua detik setelahnya baru aku ingat alarm di ponselku mirip dengan suara sirine mobil polisi. Dengan tangan gemetar aku menekan tombol-tombol ponselku, suara sirine nyaring mengagetkan orang bertampang seram itu. Langkah selanjutnya aku masih punya senjata rahasia aplikasi pengubah suara diponselku.
Aku: Daerah ini rawan penjahat perampokan. Aku akan patroli dulu di sekitar sini. (Aku dengar suaraku berubah jadi berat di telingaku sendiri.)
Penjahat itu celingukan dan lari meninggalkan gang sempit itu, lalu orang berdasi itu, begitu lepas dari cengkeraman perampok dia langsung berlari keluar gang.
Aku: Fiuuuuhhh…. (v_v)
Belum sembuh kekagetanku dengan kejadian criminal itu, aku dikagetkan lagi dengan kedatangan makhluk laki-laki  yang tiba-tiba jatuh dari dahan pohon.
Aku lihat dia adalah laki-laki yang tinggi, rambut hitam lurus tipikal rambut yang dimiliki Ichigo kurosaki jika dia dijadikan tokoh manga. Postur tubuhnya juga bisa disamakan dengan dewa kematian tokoh utama manga Bleach itu, sayangnya dia tidak punya rambut dan alis oranye.
Laki-laki misterius: Hai (dia menyeringai dengan giginya yang putih)
Aku: Hahai (dan entah mengapa aku nyengir balik padanya)
Laki-laki misterius: bagus, bagus. Sepertinya kau cocok untuk pekerjaan itu.
Aku: dia ngomong sendiri?(dalam hati) Nnggg…apa maksudmu?
Laki-laki misterius: kau ingin pekerjaan? Tidak punya uang untuk biaya sekolah? Aku punya pekerjaan bagus.
Aku: eeeehhh!!! Kau bisa tau aku butuh pekerjaan?? Kau para’abnormal’? (aku kaget dan paranoid)
Laki-laki misterius: bukaaannn!!! “jduuuggg!!!” (dia tiba-tiba saja memukul kepalaku. Dasar tidak sopan) yang penting, Kau mau terima pekerjaan ini atau tidak? Pekerjaan ini menyenangkan lho
Aku: baiklah, apa pekerjaannya?
Laki-laki misterius:  Penjaga putri bangsawan
Aku: Haaahhh!!?, semacam bodyguard begitu?
Laki-laki misterius: begitulah.
Aku: kereeeennn (dengan mata bulat berbinar-binar) lalu, kau siapa?
Laki-laki misterius: Panggil saja aku Sinn. Kau Noi, kan? Aku lihat kau membuat penjahat kabur tadi.
Oh, Jadi dia tadi melihatnya dari atas pohon. Menangkring di atas pohon seperti monyet.
Aku: Sinn. Kenapa kau nangkring di atas pohon? Seperti monyet
Sinn: panggil aku Kak Sinn! Dasar tidak sopan, kau pendek!
Aku: apaaa??!
Beberapa umpatan dan makian meluncur deras dari mulut kami. Aku bahkan lupa jika 5 menit lagi gerbang sekolah ditutup!
Aku: baiklah Kak Sinn yang baik hati dan seperti cendol. Terima kasih dan selamat tinggaaaalll!! Senaang bertemu dengann andaaaaaaa!!! (aku berpamitan untuk pergi ke sekolah mengakhiri penjumpaanku dengan Kak Sinn dengan elegan. Baca: kabur)
Kak Sinn yang mengawasiku tiba-tiba kabur jadi ternganga sangat lebar.
###
SRRAAAKK…
Aku membuka pintu kelas, dengan terangah-engah bernapas satu-satu gara-gara lelaki misterius yang aneh yang kutemui di jalan. Lalu, di dalam kelas ini  Aku lihat Toni di depanku,  teman kelasku. ia menyapa.
Toni: hai, selamat pagi
Aku: selamat pagi
Tak diduga resleting tasku dibuka oleh Randi dan dia dengan santainya membawa kabur buku PR-ku.  Aku menjerit AAARRRRGGGHHH!!!!
Randi: aku pinjam dulu yaah, byeee!!! (nyengir kabur)
Teman-teman lain kini sedang mengerubuti Randi dan berebut PR. Disaat seperti itu, hal yang paling tidak menyenangkan justru datang dengan tiba-tiba. 3 kawanan cewek elit nan menyebalkan mendekatiku, aku duduk di bangkuku dan melihat mereka dengan tatapan bosan.
Lolita: hei, hei anak miskin kalangan rakyat jelata kaum sudra, kau selalu berangkat kesiangan. Aaahhh!!!! (dia menutup mulutnya seolah sedang mengeluarkan ekspresi kaget dengan kedipan-kedipan bulu matanya yang terlalu panjang dan konyol) Jangan-jangan kau tidak punya jam di rumah???!!
Linda: Lihat nih! (memamerkan arlojinya yang terbuat dari emas *cliing!!) sudah jam 7.55
Aku duduk tak bergerak dan menunjukkan ekspresi sebal yang bosan
Dan…tiba-tiba….
BRRAAAKKK!!!
3 kaki terangkat ke atas meja di depanku. 3 kawanan monyet betina itu dengan sungguh tak sopan menginjak-injak harga diri orang lain. Huh! Suatu hari nanti aku akan buat mereka seperti tempe penyet!
Lolita: aku tahu! Kau selalu kesiangan karena sengaja tidak mau meminjamkan PR-mu kan?!!
Dessy:  huh! Pintar sekali!!
Aku: benar-benar sangat menyebalkan (aku memasang muka sebal yang bosan dengan semakin parah)
Bib, Don, Jay: boooooossssssss!!!!!!!!!!!! Kami, pembela kebenaran akan menyelamatkan bos dari iblis api meraahh!!!
Bib: enyahlah kalian nenek sihiiirrr!!
Lolita: apaaaa??!!! (monyet-monyet betina itu melemparkan pandangan geram siap mencakar)
Dessy: sebaiknya kalian hati-hati dengan kami, para bangsawan elit. (sok cool sambil menyibakkan rambut *cliing!!)
Don: hah!! Masa bodoh!
Jay: silakan menyingkir atau kalian akan merasakan tembakan pistol airku. Hiyaaa!!!
Ketiga orang ganjil bawahanku itu mengacungkan senjata airnya dengan gagah berani. (jadi terharu deh)
Linda: Aaahh, gawat! Ini bisa merusak penampilan kita.
Lolita: kita mundur dulu anak-anak!! (lalu mereka menunjuk-nunjuk kami dengan jari telunjuk) ingat! Urusan kita belum selesai!!!
Lolita cs kembali ke alamnya, baca: kelasnya. Dan aku benar-benar terperangah mengingat hidupku yang dipenuhi orang-orang tak jelas kehidupannya.
###
Malam itu Aku sedang bersiul-siul ria menyiulkan lagu utakata hanabi dari ost naruto shippuden, lalu menyanyikan lagu Sen No Yoru Wo Koete-nya Aqua timez. Menggotong setumpuk baju dan mulai menggosok-gosokkan besi panas ke atas baju-baju itu.
“Hoi.”
Aku yang mendengar suara mirip hantu bergumam ‘hoi’ tadi segera memutar leher 90° ke kiri. Di situ, di depan kulkasku, sebentuk makhluk mirip pisang goreng sedang berjongkok dan memamah biak.
Aku: haaaaaaahhhh!!!!! Ada hantu pisang goreeeennnggg!!! Apa yang kau lakukan disini!!! (kulempar setrika di tanganku dan melayang menghantam kepalanya)
Hantu pisang goreng berrambut itu ternyata adalah Kak Sinn, orang yang kutemui tadi siang selama 5 menit. Hanya 5 menit dan kini dia sudah masuk seenaknya ke rumahku dan membabat habis seluruh isi kulkasku.
Sinn: Aku temukan rumahmu dan aku lapar, jadi mampir sebentar.
Aku: mampir sebentar katamu???!!! Kau menghabiskan semua makananku!
Sinn: baiklah,terima kasih makanannya. (dia ngomong dengan santainya. Aku berjanji akan menggorengnya dan kulumuri tepung nanti)
Aku: bagus. Sekarang aku tidak punya makanan untuk melanjutkan kehidupanku besok.  
Sinn: tenang saja. (dia berjalan di depanku dan duduk di sofaku yang empuk. Sungguh tidak sopan) kau akan punya pekerjaan tetap. Dua pekerjaan malahan. Besok kau bisa menemui nona bangsawan yang harus kau jaga.
Aku: aku harap itu bukan pekerjaan merepotkan. (kataku sambil mengerucutkan bibir)
Sinn: lihat, ponsel ini seperti ponsel biasa (ia memperlihatkan ponselnya)tapi, ini ponsel yang sudah  dimodifikasi menjadi alat pendeteksi adanya penjahat yang ingin mencelakai nona. Jadi, kau harus bersiap. Aku akan mentransfer kekuatan penjaga padamu, aku sudah mendaftarkanmu menjadi penjaga kaum bangsawan.
Aku: aku merasa menjadi baby sitter (dan aku menerima ponsel itu)
Kak sinn mendekatiku, tangannya menempel di kepalaku dan membuatku tertunduk. Cahaya biru dan putih berpendar. Ada Hawa dingin melingkupiku, lalu perasaan hangat bertenaga merasuk seperti dari kepalaku menyusup ke ubun-ubun sampai pada ujung jari kakiku.
Sinn: aku sudah mentransfernya, sekarang kau hanya perlu latihan sedikit untuk membiasakan pengontrolan kekuatanmu. Dan satu lagi, kau boleh memakai topeng khusus penjaga.
Aku: topengapa? Apaan?
Sinn: seorang penjaga boleh memakai topeng atau tidak saat menghadapi musuh. Topeng itu berguna untuk melindungi identitasmu. Baiklah, aku ambilkan topengmu. (dia menengadahkan tangannya dan whhuuusss! Sebuah topeng terletak di tangannya)
Aku: apaaa!!!??? Topeng wajah monyeeettt??? Aku tidak mau pakai itu!
Sinn: bagus kan? Kau memang cocok jadi topeng monyet. (dia terkekeh menyebalkan)
Aku: pakai saja sendiri!
Sinn: ahahaha!!! Maaf, maaf. Aku hanya bercanda. Topeng ini yang benar. (dia menghilangkan topeng monyet itu dan memunculkan sebuah topeng yang bagian atas berwarna putih, bagian bawah berwarna hitam dengan gigi menyeringai, di sekitar mata terdapat sebentuk api warna merah. Yah, cukup keren)
Aku: yah, cukup keren. Bagaimana aku mengeluarkannya??
Sinn: pusatkan energi yang kau pikirkan sebagai energi pembentuk topeng di telapak tanganmu, lalu dekatkan ke mukamu. Topeng itu akan muncul.
Aku: aahhh, kurasa kehidupanku akan makin rumit!!
Sinn tersentak, tiba-tiba matanya jadi layu. Ia memandangku.
Aku: ada apa?
Sinn: tidak, aku rasa aku harus pergi. Kau, jaga diri baik-baik.
Aku: siap kapten!!
Sinn: oh!  terima kasih makanannya. Besok aku akan memperkenalkan nona yang harus kau jaga!!
Dia terkekeh lalu melesat entah kemana. Aku tak mengerti, ketidakmengertianku membuatku tak bisa berkomentar apa-apa. Aku menggaruk kepalaku. Lalu menyaksikan tanganku, apa benar aku bisa punya kekuatan untuk melindungi seseorang? Dan, siapa Kak Sinn itu? Dia datang disaat seperti itu. Aku belum mengerti sekarang, tapi jika ini bukan mimpi, kebenaran akan terungkap perlahan.
***
Esok paginya….
Cuit..cuit..cuit.
Krosak! Krosak!
Dari jendela kamarku aku mendengar sesuatu berkerosakan dari semak-semak tak terawat agak jauh di belakang. Huh! Aku pasti jadi paranoid gara-gara hantu pisang goreng tadi malam! Ah, sudahlah. Yang harus aku pikirkan adalah apakah aku sudah gila karena peristiwa yang tak masuk akal tadi malam. Mungkin aku Cuma berhalusinasi karena kelaparan atau entah apa itu. Aku merasa harus cepat-cepat mengusir pikiran buruk ini.
Yeaps
Aku: uwwaaaaa!!!! Hantu pisang goreng!!
Sinn: hm?? Hohi hihi henyak. (Kak Sinn tiba-tiba saja sudah duduk dengan manis di kursi sofaku yang empuk. Dan dia mulai minum teh dengan santainya!! Benar-benar tidak bisa dimaafkan.)
Ah, ngomong-ngomong tadi dia bilang “Roti ini enak”
Aku: bicaralah yang jelas, Kak Sinn si manusia jamur!
Sinn: yaahh, yaahh…karena tadi malam aku teah menghabiskan persediaan makanmu selama hidupmu, hari ini aku membawakanmu setumpuk roti sandwich dan susu hangat. (katanya sambil terus mengunyah)
Aku: *Cling-cling-cling* baiklah, tuan Kak Sinn yang baik hati. Aku ingat janjiku menunaikan tugas mulia sebagai bodyguard. (yah, aku tau perubahan mendasar dari sifat manusia yang takluk oleh makanan)
Sinn: Ambil tasmu. Kita berdua pergi ke sekolah.
Ah, benar juga. Kak Sinn sepertinya juga masih kelas 3 SMA. Tapi, kenapa aku tidak sadar ada orang yang beginian di satu sekolah denganku??
Lima belas menit perjalanan dari rumah tuaku sampai di sekolah, hari ini hanya ditempuh dengan lima menit saja. Hahaha, jangan heran. Karena….ulah siapa lagi ini kalau bukan kak Sinn si manusia jamur itu???!!! Dia membawaku dengan berlari dengan kecepatan menyamai kecepatan sepeda motor. Sebenarnya dia menggendongku. Yah, dia menggendongku di punggungnya. Ah, sudahlah!! Jangan buat aku mengatakannya lagi!! Aku malu.
Kami berjalan melewati gerbang sekolah berwarna coklat mengkilap. Bangunan tinggi dua lantai yang besar dan megah itu adalah tempatku sekolah. Pilar-pilarnya saja sudah membuat jantungan. (Yah, itu jika kau miskin seperti aku)
Aku: aaku rasa banyak anak perempuan yang melirikmu.
Tiba-tiba seorang gadis menyapa.
Seorang gadis: pagi, Sinn
Sinn: pagi (katanya dan terus melangkah) ahaha, kau lihat Noi? Aku memang terkenal.
Aku : huh, PeDe sekali. =____=
Kak Sinn dan aku melangkah di sepanjang lorong kelas. Aku memperhatikan Kak Sinn. Dengan postur tubuh dan wajah seperti itu, tidak heran jika banyak gadis melihatnya.
Aku: hah!! Apa-apaan pikiran seperti itu!!
Sinn: ada apa??
Aku menggeleng.
Kak Sinn: kamu tunggu di sini, aku akan masuk ke kelas.
Dia memasuki ruang kelas 2C sementara aku melihat ruang kelasku ada di ujung lorong yang agak jauh.
Lalu, aku melihat Kak Sinn keluar dari ruang kelas 2C yang ribut.
Kak Sinn: yaps, aku akan memperkenalkan putri bangsawan dari keluarga Shinee yang akan kau jaga.
Aku dapat merasakan aroma mawar yang mendekat dan bunyi ketukan dari sepatu seorang putri bangsawan
Kak Sinn: taaaaadaaaaa dialah putri bangsawan……..LOLITA SHINEE!!!!!!!
0_0
0_0
O_O
O_O
OOO  ! HAAAAAAAAAAHHHHHHHH!!!!?????!!!!!?????
Aku: Lo-lo-lo-lo-Lolitaaaaaa??????
Lolita: No-no-no-no-Noiiiiiiiii?????
Kak Sinn: Ya (^_^) kalian sudah saling kenal? Baiklah. Itu bagus.
Lolita: kenapa nggak Kak Sinn saja yang menjagaku?
Kak Sinn: tidak bisa. Seorang putri dijaga juga oleh seorang gadis. Lagipula saya banyak pekerjaan, putri Lolita.
Aku: aaaaa…..tidak bisa dipercaya….. ―_―”
Lolita: apa kau masih ingat? Mari kita selesaikan urusan kita yang kemarin.
Aku: putri bangsawan atau putri presiden. Noi, tetaplah Noi! Sang penegak kebenaran!!
Uh, aku ingat kemarin Kak Sinn memberikanku kekuatan. Sekarang bagaimana mengaktifkannya??
Aku: bagaimana caranya mengeluarkan kekuatannya ya??
Kami berdua memasang kuda-kuda. Kak Sinn melihat dengan bingung (0.O)?
Aku: tombak api!!!
…….. tidak terjadi apa-apa…..
Aku: hahh!! Tidak ada tombak!!
Lolita: Cakar naga norwegia!!!
Kak Sinn: apa-apaan ini??
SYUUUUURRRRR
Aku: uwaaaaa!! Apa yang kau lakukan Kak Sinn??
T_T huhu, Kak Sinn menyemprotku dengan semprotan air. Apa maksudnya?? Lagipula aku sudah mandi.
Aku: dari mana datangnya selang air itu???!!
Kak Sinn: sudah cukup!! Kamu tidak boleh melukai majikanmu sendiri. Sekarang minta maaf dan masuk ke kelasmu!
T_T jahaaat….
Aku: majikan ya…
Kak Sinn: pikirkan dulu apa yang mau kau lakukan jika tidak ingin kehilangan pekerjaan. Putri Lolita, maafkan kami. (Kak Sinn membungkukkan badannya)
Dan Kak Sinn pergi. Dan aku berdiri menatapnya dengan kesal. Dan Lolita mengawasi kami. Dan….terlalu banyak kata “dan”.
Aku: maafkan aku. 
Lolita: baiklah, kau kumaafkan karena aku adalah putri yang baik hati. Asal kau menjagaku dari penjahat. Kau memang buruk, tapi berusahalah. Hohohoho….
Aku: itu hanya formalitas, tuan putri semangka beracun. Harga diri tetap harga diri!! (aku pun melesat pergi jauh.)
Lolita: Noooiiiii!!! Aku akan membalasmuuuuuu
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Tapi, kami murid-murid satu kelas masih saja bersuara dengan ribut dan berkeliaran di mana-mana.  Sesaat kemudian aku mendengar suara bising dari belakangku
Bib, Don, Jay: Yooooooo!! boooooosssss!!!!!
Aku: haaah? (dengan mata menerawang)
Bib: Boss, apa kau mengalami hal buruk pagi ini??
Aku: haaah?
Don: tidaakk! Boss kehilangan kesadarannya!
Aku: duduklah ke bangku kaliaaaannn!!! Ini sudah pelajaraaaannn!! (jawabku kesal dan mereka mengkerut ketakutan)
Jay: baiklah boss, sampai jumpa.
Mereka akhirnya berdiri dengan tegak dan mengeluarkan gaya penghormatan dengan menempelkan jari tangan kanan di dagu, jari telunjuk dan jari tengah di sebelah kanan dan jempol di sebelah kiri sementara ujung dagu di lekukan.
Aku: huuh, apa sih yang dipikirkan Kak Sinn. Tapi, aku juga salah. Huuh… aku harus minta maaf (v_v)
###
Waktu pukul tiga sore aku sedang membersihkan rumah dan pada saat itu Kak Sinn sedan berada di sebuah tempat. Dia minum jus melon dari sebuah gelas dan ada seorang laki-laki di hadapannya.
Laki-laki: hahaha, kamu terlalu serius.
Kak Sinn: Aku tidak bermaksud begitu.
Laki-laki: sebetulnya kamu ingin melihat wajahnya saat menangis, lalu kau minta maaf padanya, menenangkannya di pundakmu. Olala… romanhauph (tiba-tiba saja Kak Sinn memasukkan potongan kue coklat ke dalam mulut laki-laki itu)
Seorang perempuan yang membawakan minuman melihat mereka berdua dan tertawa ^_^
Kak Sinn: huh.   (_―  )   
Laki-laki: nyam, nyam..kau sangat lucu saat digoda.
Perempuan: dia terlihat manis saat malu-malu.
Kak Sinn: Kak Rimma!!
Yah, perempuan itu ternyata bernama Rimma
Kak Rimma: hahaha, maaf, maaf.    ( ^  ͜  ^)┐
Kak Sinn: baiklah, aku pergi.
-----------------------------
Aku memandang tumpukan cucian dengan pandangan suram dan horror. Seakan tumpukan itu sudah menjadi sarang tikus, sarang ular, dan saran jin beranak-pinak.
Aku: ok, aku akan mencucinya nan―
Seketika itu aku merasa ada yang menarik bajuku dari belakang, aku pikir koloni tikus yang bersarang di baju kotorku telah  bertransformasi menjadi raksasa dan menyerangku.
Tapi ternyata aku mendengar suara manusia “Ayo latihan…”. Yah, dari situ aku sudah mempunyai perasaan yang buruk tentang siapa yang datang.
Kami sampai di halaman rumah. Di atas rerumputan hijau yang empuk dan hari yang sudah gelap.
Kak Sinn: Noi, kamu harus latihan karena misi ini penting dan berbahaya―
Aku: oke, tapi tadi aku menghitung poin-poin kesalahanmu. Satu. Kamu masuk rumahku tanpa ketuk pintu, itu artinya nggak minta izin. Dua, kamu mengganggu acara beres-beres kerjaan rumahku. Tiga―
Kak Sinn: yaaahh, maaf. Sorry soal itu. Maaf juga karena aku terlalu emosional di sekolah tadi.
Aku: itu memang sifatmu.
Kak Sinn: oh, itu yang kamu bilang setelah seseorang minta maaf dengan tulus, haaaah?? JDUG, JDUG(uwaaaa!! Dia memukul-mukul kepalaku!!)
Aku: aaaahhh, iya. Aku maafkan.
Kak sinn: oke. Itu baru pintar.
Aku: jadi, kapan mulai latihan? Aku capek sekali
Kak sinn: pertama kamu harus bisa mengeluarkan kekuatanmu untuk mengetahui kekuatan tipe apa yang kau punya.
Aku: jadi, kak sinn belum tahu??
Kak sinn: tentu saja. Walaupun aku yang mentransfer, aku Cuma memberikan energy pembangkit.
Aku: aku jadi pusing.
Kak sinn: sekarang kamu serang aku.
Aku: serangeehh?? Apa??
Kak sinn: cepat serang aku dan jangan ragu-ragu.
Aku: tapi bagaimana―
Aku tidak tahu maksudnya apa. Aku juga tidak berniat menyerangnya. Tapi, karena ini latihan dan aku takut kak sinn mengamuk padaku, jadi aku mulai menyerangnya.
Aku sering memukul dengan kepalan tanganku tapi kak sinn dengan mudah menangkisku. Pukulan fisik memang tidak begitu sakit bagiku, entah mengapa. Terkadang aku juga mengelak dari serangan kak sinn. Dan aku masih kebingungan dengan latihan ini. Tapi, tiba-tiba kak sinn berhenti.
Kak sinn: itu semua adalah kekuatan fisikmu. Aku belum melihat hasil dari energy pembangkit yang ku berikan. Kalau begitu, kau belum bersungguh-sungguh.
Tiba-tiba dalam genggaman kak sinn muncul pedang yang sangat indah. Dia jadi tampak begitu  great, brave, and cool.
Aku: a―apaa?
Kak sinn: kalau kau tidak mau serius, biar aku yang mengawalinya. Kamu lihat kucing itu? (dia menunjuk ke arah kucing belang di samping pohon) aku bisa menebasnya dengan mudah kalau aku mau.
Aku tidak mengerti kenapa dia jadi pembenci binatang seperti itu. Tapi, untuk saat ini yang aku pikirkan hanya agar kucing itu tidak jadi korban kebuasan kak Sinn.
Dengan tenaga penuh dan tekad yang membara, aku maju menghadapi monster kak sinn yang menyebalkan.  Pedangnya terlihat berkilat di tengah gelap malam. Lalu aku melihat kilasan cahaya yang lain di mata kak Sinn. BLAAAMM!! Percikan bunga api tiba-tiba telah mengguyur dengan indah.
Aku: apa itu tadi? Aku merasa seperti diliputi energy yang besar.
Kak sinn tertegun tak percaya.
Kak Sinn: itu dia! Itu dia! Itu kekuatanmu. Tipe yang langka, jenis explosion penghancur. Daya serang kuat dan daya hancur besar, kamu bisa menggunakan ini untuk pertempuran jarak dekat maupun jauh.
Aku: haah?? Hebat! Hebat sekali!! Hahahaha!
Seketika itu, rasanya tulang-tulangku tidak bersendi. Aku menjatuhkan diri di rerumputan dan dari situ aku memandang bintang-bintang banyak membentuk konstelasi di langit. Aku mengatakan bahwa aku sangat capek hari itu. Kak sinn tersenyum dan bergumam kalau dia juga sangat lelah. Lalu dia duduk di rerumputan di sampingku, sama-sama memandangi bintang.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar