GUARD! GUARD!
Yo, teman. Aku Noi. Aku sedang berjalan sambil bersiul
dengan siulan yang payah menuju ke sekolah. Bulan ini keuanganku benar-benar
defisit dan aku harap bisa melunasi pembayaran sekolah setidaknya sampai lulus
SMA. Aku benar-benar berharap ada pekerjaan untuk menambal kekurangan uang ini.
Aku juga harus bertahan hidup.
Kucing: Miiaaaww (aku
melihat seekor kucing berbelang jingga di tepi sungai. kucing itu hampir
tenggelam di sungai sementara anak-anak kecil mengganggu kucing itu.)
Aku: Hei, hei. Kasihan kucingnya. (Lalu aku mengambil kucing itu dan meletakkannya di
daratan. Mata kucing itu berkaca-kaca. Ah, terlalu berkhayal.)
Aku melanjutkan perjalanan ke
sekolah dan baru menyadari aku hampir terlambat! Hyyaaaa!!! Aku harus sampai
tepat waktu. Gawat sekali! Tapi, tunggu….
seorang bertampang seram sedang
mendesak seseorang berseragam kantor di sebuah gang sempit. Aku panik! Tengok
kanan, tengok kiri. Uwaaa!! Tidak ada saksi mata. Oh, hanya aku saksi mata jika
terjadi pembunuhan. Oh, bodoh! Orang itu belum mati. Aku mengacak-acak rambutku
dan menempel-nempelkan diri ke pohon rindang tempatku bersembunyi. Dua detik
setelahnya baru aku ingat alarm di ponselku mirip dengan suara sirine mobil
polisi. Dengan tangan gemetar aku menekan tombol-tombol ponselku, suara sirine
nyaring mengagetkan orang bertampang seram itu. Langkah selanjutnya aku masih
punya senjata rahasia aplikasi pengubah suara diponselku.
Aku: Daerah ini rawan penjahat perampokan. Aku akan patroli
dulu di sekitar sini. (Aku dengar suaraku
berubah jadi berat di telingaku sendiri.)
Penjahat itu celingukan dan lari
meninggalkan gang sempit itu, lalu orang berdasi itu, begitu lepas dari
cengkeraman perampok dia langsung berlari keluar gang.
Aku: Fiuuuuhhh…. (v_v)
Belum sembuh kekagetanku dengan
kejadian criminal itu, aku dikagetkan lagi dengan kedatangan makhluk laki-laki yang tiba-tiba jatuh dari dahan pohon.
Aku lihat dia adalah laki-laki
yang tinggi, rambut hitam lurus tipikal rambut yang dimiliki Ichigo kurosaki
jika dia dijadikan tokoh manga. Postur tubuhnya juga bisa disamakan dengan dewa
kematian tokoh utama manga Bleach itu, sayangnya dia tidak punya rambut dan
alis oranye.
Laki-laki misterius: Hai (dia menyeringai
dengan giginya yang putih)
Aku: Ha―hai (dan entah mengapa aku nyengir balik padanya)
Laki-laki misterius: bagus, bagus. Sepertinya kau cocok untuk pekerjaan itu.
Aku: dia ngomong sendiri?(dalam
hati) Nnggg…apa maksudmu?
Laki-laki misterius: kau ingin pekerjaan? Tidak punya uang untuk biaya
sekolah? Aku punya pekerjaan bagus.
Aku: eeeehhh!!! Kau bisa tau aku butuh pekerjaan?? Kau
para’abnormal’? (aku kaget dan paranoid)
Laki-laki misterius: bukaaannn!!! “jduuuggg!!!”
(dia tiba-tiba saja memukul kepalaku. Dasar tidak
sopan) yang penting, Kau mau terima
pekerjaan ini atau tidak? Pekerjaan ini menyenangkan lho
Aku: baiklah, apa pekerjaannya?
Laki-laki misterius: Penjaga putri
bangsawan
Aku: Haaahhh!!?, semacam bodyguard begitu?
Laki-laki misterius: begitulah.
Aku: kereeeennn (dengan
mata bulat berbinar-binar) lalu, kau siapa?
Laki-laki misterius: Panggil saja aku Sinn. Kau Noi, kan? Aku lihat kau
membuat penjahat kabur tadi.
Oh, Jadi dia tadi melihatnya
dari atas pohon. Menangkring di atas pohon seperti monyet.
Aku: Sinn. Kenapa kau nangkring di atas pohon? Seperti monyet
Sinn: panggil aku Kak Sinn! Dasar tidak sopan, kau pendek!
Aku: apaaa??!
Beberapa umpatan dan makian
meluncur deras dari mulut kami. Aku bahkan lupa jika 5 menit lagi gerbang
sekolah ditutup!
Aku: baiklah Kak Sinn yang baik hati dan seperti cendol.
Terima kasih dan selamat tinggaaaalll!! Senaang bertemu dengann andaaaaaaa!!!
(aku berpamitan untuk pergi ke sekolah mengakhiri
penjumpaanku dengan Kak Sinn dengan elegan. Baca: kabur)
Kak Sinn yang mengawasiku
tiba-tiba kabur jadi ternganga sangat lebar.
###
SRRAAAKK…
Aku membuka pintu kelas, dengan
terangah-engah bernapas satu-satu gara-gara lelaki misterius yang aneh yang
kutemui di jalan. Lalu, di dalam kelas ini
Aku lihat Toni di depanku, teman
kelasku. ia menyapa.
Toni: hai, selamat pagi
Aku: selamat pagi
Tak diduga resleting tasku
dibuka oleh Randi dan dia dengan santainya membawa kabur buku PR-ku. Aku menjerit AAARRRRGGGHHH!!!!
Randi: aku pinjam dulu yaah, byeee!!! (nyengir kabur)
Teman-teman lain kini sedang mengerubuti
Randi dan berebut PR. Disaat seperti itu, hal yang paling tidak menyenangkan
justru datang dengan tiba-tiba. 3 kawanan cewek elit nan menyebalkan
mendekatiku, aku duduk di bangkuku dan melihat mereka dengan tatapan bosan.
Lolita: hei, hei anak miskin kalangan rakyat jelata kaum sudra,
kau selalu berangkat kesiangan. Aaahhh!!!! (dia menutup mulutnya seolah sedang mengeluarkan ekspresi
kaget dengan kedipan-kedipan bulu matanya yang terlalu panjang dan konyol)
Jangan-jangan kau tidak punya jam di rumah???!!
Linda: Lihat nih! (memamerkan
arlojinya yang terbuat dari emas *cliing!!) sudah
jam 7.55
Aku duduk tak bergerak dan
menunjukkan ekspresi sebal yang bosan
Dan…tiba-tiba….
BRRAAAKKK!!!
3 kaki terangkat ke atas meja di
depanku. 3 kawanan monyet betina itu dengan sungguh tak sopan menginjak-injak
harga diri orang lain. Huh! Suatu hari nanti aku akan buat mereka seperti tempe
penyet!
Lolita: aku tahu! Kau selalu kesiangan karena sengaja tidak mau
meminjamkan PR-mu kan?!!
Dessy: huh! Pintar
sekali!!
Aku: benar-benar sangat menyebalkan (aku memasang muka sebal yang bosan dengan semakin parah)
Bib, Don, Jay: boooooossssssss!!!!!!!!!!!! Kami, pembela kebenaran akan menyelamatkan
bos dari iblis api meraahh!!!
Bib: enyahlah kalian nenek sihiiirrr!!
Lolita: apaaaa??!!! (monyet-monyet
betina itu melemparkan pandangan geram siap mencakar)
Dessy: sebaiknya kalian hati-hati dengan kami, para bangsawan
elit. (sok cool sambil menyibakkan rambut
*cliing!!)
Don: hah!! Masa bodoh!
Jay: silakan menyingkir atau kalian akan merasakan tembakan
pistol airku. Hiyaaa!!!
Ketiga orang ganjil bawahanku
itu mengacungkan senjata airnya dengan gagah berani. (jadi terharu deh)
Linda: Aaahh, gawat! Ini bisa merusak penampilan kita.
Lolita: kita mundur dulu anak-anak!! (lalu mereka menunjuk-nunjuk kami dengan jari telunjuk)
ingat! Urusan kita belum selesai!!!
Lolita cs kembali ke alamnya,
baca: kelasnya. Dan aku benar-benar terperangah mengingat hidupku yang dipenuhi
orang-orang tak jelas kehidupannya.
###
Malam itu Aku sedang
bersiul-siul ria menyiulkan lagu utakata hanabi dari ost naruto shippuden, lalu
menyanyikan lagu Sen No Yoru Wo Koete-nya Aqua timez. Menggotong setumpuk baju
dan mulai menggosok-gosokkan besi panas ke atas baju-baju itu.
“Hoi.”
Aku yang mendengar suara mirip
hantu bergumam ‘hoi’ tadi segera memutar leher 90° ke kiri. Di situ,
di depan kulkasku, sebentuk makhluk mirip pisang goreng sedang berjongkok dan
memamah biak.
Aku: haaaaaaahhhh!!!!! Ada hantu pisang goreeeennnggg!!! Apa
yang kau lakukan disini!!! (kulempar setrika
di tanganku dan melayang menghantam kepalanya)
Hantu pisang goreng berrambut
itu ternyata adalah Kak Sinn, orang yang kutemui tadi siang selama 5 menit.
Hanya 5 menit dan kini dia sudah masuk seenaknya ke rumahku dan membabat habis
seluruh isi kulkasku.
Sinn: Aku temukan rumahmu dan aku lapar, jadi mampir sebentar.
Aku: mampir sebentar katamu???!!! Kau menghabiskan semua
makananku!
Sinn: baiklah,terima kasih makanannya. (dia ngomong dengan santainya. Aku berjanji akan
menggorengnya dan kulumuri tepung nanti)
Aku: bagus. Sekarang aku tidak punya makanan untuk melanjutkan
kehidupanku besok.
Sinn: tenang saja. (dia
berjalan di depanku dan duduk di sofaku yang empuk. Sungguh tidak sopan)
kau akan punya pekerjaan tetap. Dua pekerjaan
malahan. Besok kau bisa menemui nona bangsawan yang harus kau jaga.
Aku: aku harap itu bukan pekerjaan merepotkan. (kataku sambil mengerucutkan bibir)
Sinn: lihat, ponsel ini seperti ponsel biasa (ia memperlihatkan ponselnya)tapi, ini ponsel yang sudah dimodifikasi menjadi alat pendeteksi adanya
penjahat yang ingin mencelakai nona. Jadi, kau harus bersiap. Aku akan
mentransfer kekuatan penjaga padamu, aku sudah mendaftarkanmu menjadi penjaga
kaum bangsawan.
Aku: aku merasa menjadi baby sitter (dan aku menerima ponsel itu)
Kak sinn mendekatiku, tangannya
menempel di kepalaku dan membuatku tertunduk. Cahaya biru dan putih berpendar.
Ada Hawa dingin melingkupiku, lalu perasaan hangat bertenaga merasuk seperti
dari kepalaku menyusup ke ubun-ubun sampai pada ujung jari kakiku.
Sinn: aku sudah mentransfernya, sekarang kau hanya perlu
latihan sedikit untuk membiasakan pengontrolan kekuatanmu. Dan satu lagi, kau
boleh memakai topeng khusus penjaga.
Aku: topeng―apa? Apaan?
Sinn: seorang penjaga boleh memakai topeng atau tidak saat
menghadapi musuh. Topeng itu berguna untuk melindungi identitasmu. Baiklah, aku
ambilkan topengmu. (dia menengadahkan
tangannya dan whhuuusss! Sebuah topeng terletak di tangannya)
Aku: apaaa!!!??? Topeng wajah monyeeettt??? Aku tidak mau
pakai itu!
Sinn: bagus kan? Kau memang cocok jadi topeng monyet. (dia terkekeh menyebalkan)
Aku: pakai saja sendiri!
Sinn: ahahaha!!! Maaf, maaf. Aku hanya bercanda. Topeng ini
yang benar. (dia menghilangkan topeng monyet
itu dan memunculkan sebuah topeng yang bagian atas berwarna putih, bagian bawah
berwarna hitam dengan gigi menyeringai, di sekitar mata terdapat sebentuk api
warna merah. Yah, cukup keren)
Aku:
yah, cukup keren. Bagaimana aku mengeluarkannya??
Sinn: pusatkan energi yang kau pikirkan sebagai energi
pembentuk topeng di telapak tanganmu, lalu dekatkan ke mukamu. Topeng itu akan
muncul.
Aku: aahhh, kurasa kehidupanku akan makin rumit!!
Sinn tersentak, tiba-tiba
matanya jadi layu. Ia memandangku.
Aku: ada apa?
Sinn: tidak, aku rasa aku harus pergi. Kau, jaga diri
baik-baik.
Aku: siap kapten!!
Sinn: oh! terima kasih
makanannya. Besok aku akan memperkenalkan nona yang harus kau jaga!!
Dia terkekeh lalu melesat entah
kemana. Aku tak mengerti, ketidakmengertianku membuatku tak bisa berkomentar
apa-apa. Aku menggaruk kepalaku. Lalu menyaksikan tanganku, apa benar aku bisa
punya kekuatan untuk melindungi seseorang? Dan, siapa Kak Sinn itu? Dia datang
disaat seperti itu. Aku belum mengerti sekarang, tapi jika ini bukan mimpi,
kebenaran akan terungkap perlahan.
***
Esok paginya….
Cuit..cuit..cuit.
Krosak! Krosak!
Dari jendela kamarku aku mendengar sesuatu berkerosakan
dari semak-semak tak terawat agak jauh di belakang. Huh! Aku pasti jadi
paranoid gara-gara hantu pisang goreng tadi malam! Ah, sudahlah. Yang harus aku
pikirkan adalah apakah aku sudah gila karena peristiwa yang tak masuk akal tadi
malam. Mungkin aku Cuma berhalusinasi karena kelaparan atau entah apa itu. Aku
merasa harus cepat-cepat mengusir pikiran buruk ini.
Yeaps
Aku: uwwaaaaa!!!!
Hantu pisang goreng!!
Sinn: hm?? Hohi hihi
henyak. (Kak Sinn tiba-tiba saja sudah duduk
dengan manis di kursi sofaku yang empuk. Dan dia mulai minum teh dengan
santainya!! Benar-benar tidak bisa dimaafkan.)
Ah, ngomong-ngomong tadi dia bilang “Roti ini enak”
Aku: bicaralah yang
jelas, Kak Sinn si manusia jamur!
Sinn: yaahh,
yaahh…karena tadi malam aku teah menghabiskan persediaan makanmu selama
hidupmu, hari ini aku membawakanmu setumpuk roti sandwich dan susu hangat.
(katanya sambil terus mengunyah)
Aku: *Cling-cling-cling*
baiklah, tuan Kak Sinn yang baik hati. Aku ingat
janjiku menunaikan tugas mulia sebagai bodyguard. (yah, aku tau perubahan mendasar dari sifat manusia yang
takluk oleh makanan)
Sinn: Ambil tasmu. Kita berdua pergi ke sekolah.
Ah, benar juga. Kak Sinn
sepertinya juga masih kelas 3 SMA. Tapi, kenapa aku tidak sadar ada orang yang
beginian di satu sekolah denganku??
Lima belas menit perjalanan dari
rumah tuaku sampai di sekolah, hari ini hanya ditempuh dengan lima menit saja.
Hahaha, jangan heran. Karena….ulah siapa lagi ini kalau bukan kak Sinn si
manusia jamur itu???!!! Dia membawaku dengan berlari dengan kecepatan menyamai
kecepatan sepeda motor. Sebenarnya dia menggendongku. Yah, dia menggendongku di
punggungnya. Ah, sudahlah!! Jangan buat aku mengatakannya lagi!! Aku malu.
Kami berjalan melewati gerbang
sekolah berwarna coklat mengkilap. Bangunan tinggi dua lantai yang besar dan
megah itu adalah tempatku sekolah. Pilar-pilarnya saja sudah membuat jantungan.
(Yah, itu jika kau miskin seperti aku)
Aku: a―aku rasa banyak anak perempuan yang melirikmu.
Tiba-tiba seorang gadis menyapa.
Seorang gadis: pagi, Sinn
Sinn: pagi (katanya dan terus
melangkah) ahaha,
kau lihat Noi? Aku memang terkenal.
Aku : huh, PeDe sekali. =____=
Kak Sinn dan aku melangkah di
sepanjang lorong kelas. Aku memperhatikan Kak Sinn. Dengan postur tubuh dan
wajah seperti itu, tidak heran jika banyak gadis melihatnya.
Aku: hah!! Apa-apaan
pikiran seperti itu!!
Sinn: ada apa??
Aku menggeleng.
Kak Sinn: kamu tunggu di sini,
aku akan masuk ke kelas.
Dia memasuki ruang kelas 2C
sementara aku melihat ruang kelasku ada di ujung lorong yang agak jauh.
Lalu, aku melihat Kak Sinn
keluar dari ruang kelas 2C yang ribut.
Kak Sinn: yaps, aku akan
memperkenalkan putri bangsawan dari keluarga Shinee yang akan kau jaga.
Aku dapat merasakan aroma mawar
yang mendekat dan bunyi ketukan dari sepatu seorang putri bangsawan
Kak Sinn: taaaaadaaaaa dialah
putri bangsawan……..LOLITA SHINEE!!!!!!!
0_0
0_0
O_O
O_O
OOO ! HAAAAAAAAAAHHHHHHHH!!!!?????!!!!!?????
Aku: Lo-lo-lo-lo-Lolitaaaaaa??????
Lolita: No-no-no-no-Noiiiiiiiii?????
Kak Sinn: Ya (^_^) kalian sudah
saling kenal? Baiklah. Itu bagus.
Lolita: kenapa nggak Kak Sinn
saja yang menjagaku?
Kak Sinn: tidak bisa. Seorang
putri dijaga juga oleh seorang gadis. Lagipula saya banyak pekerjaan, putri Lolita.
Aku: aaaaa…..tidak bisa
dipercaya….. ―_―”
Lolita: apa kau masih ingat?
Mari kita selesaikan urusan kita yang kemarin.
Aku: putri bangsawan atau
putri presiden. Noi, tetaplah Noi! Sang penegak kebenaran!!
Uh, aku ingat kemarin Kak Sinn
memberikanku kekuatan. Sekarang bagaimana mengaktifkannya??
Aku: bagaimana caranya mengeluarkan kekuatannya ya??
Kami berdua memasang kuda-kuda.
Kak Sinn melihat dengan bingung (0.O)?
Aku: tombak api!!!
…….. tidak terjadi apa-apa…..
Aku: hahh!! Tidak ada
tombak!!
Lolita: Cakar naga
norwegia!!!
Kak Sinn: apa-apaan ini??
SYUUUUURRRRR
Aku: uwaaaaa!! Apa yang
kau lakukan Kak Sinn??
T_T huhu, Kak Sinn menyemprotku
dengan semprotan air. Apa maksudnya?? Lagipula aku sudah mandi.
Aku: dari mana datangnya
selang air itu???!!
Kak Sinn: sudah cukup!! Kamu tidak boleh melukai majikanmu sendiri.
Sekarang minta maaf dan masuk ke kelasmu!
T_T jahaaat….
Aku: majikan ya…
Kak Sinn: pikirkan dulu apa yang mau kau lakukan jika tidak ingin
kehilangan pekerjaan. Putri Lolita, maafkan kami.
(Kak Sinn membungkukkan badannya)
Dan Kak Sinn pergi. Dan aku
berdiri menatapnya dengan kesal. Dan Lolita mengawasi kami. Dan….terlalu banyak
kata “dan”.
Aku: maafkan aku.
Lolita: baiklah, kau
kumaafkan karena aku adalah putri yang baik hati. Asal kau menjagaku dari
penjahat. Kau memang buruk, tapi berusahalah. Hohohoho….
Aku: itu hanya formalitas,
tuan putri semangka beracun. Harga diri tetap harga diri!! (aku pun melesat pergi jauh.)
Lolita: Noooiiiii!!! Aku akan
membalasmuuuuuu
Tak lama kemudian bel masuk
berbunyi. Tapi, kami murid-murid satu kelas masih saja bersuara dengan ribut
dan berkeliaran di mana-mana. Sesaat
kemudian aku mendengar suara bising dari belakangku
Bib, Don, Jay: Yooooooo!!
boooooosssss!!!!!
Aku: haaah? (dengan mata
menerawang)
Bib: Boss, apa kau
mengalami hal buruk pagi ini??
Aku: haaah?
Don: tidaakk! Boss
kehilangan kesadarannya!
Aku: duduklah ke bangku
kaliaaaannn!!! Ini sudah pelajaraaaannn!! (jawabku kesal dan mereka mengkerut ketakutan)
Jay: baiklah boss, sampai
jumpa.
Mereka akhirnya berdiri dengan
tegak dan mengeluarkan gaya penghormatan dengan menempelkan jari tangan kanan
di dagu, jari telunjuk dan jari tengah di sebelah kanan dan jempol di sebelah
kiri sementara ujung dagu di lekukan.
Aku: huuh, apa sih yang
dipikirkan Kak Sinn. Tapi, aku juga salah. Huuh… aku harus minta maaf (v_v)
###
Waktu pukul tiga sore aku sedang
membersihkan rumah dan pada saat itu Kak Sinn sedan berada di sebuah tempat.
Dia minum jus melon dari sebuah gelas dan ada seorang laki-laki di hadapannya.
Laki-laki: hahaha, kamu terlalu
serius.
Kak Sinn: Aku tidak bermaksud
begitu.
Laki-laki: sebetulnya kamu ingin
melihat wajahnya saat menangis, lalu kau minta maaf padanya, menenangkannya di
pundakmu. Olala… roman―hauph (tiba-tiba saja Kak
Sinn memasukkan potongan kue coklat ke dalam mulut laki-laki itu)
Seorang perempuan yang
membawakan minuman melihat mereka berdua dan tertawa ^_^
Kak Sinn: huh. (―_― )
Laki-laki: nyam, nyam..kau
sangat lucu saat digoda.
Perempuan: dia terlihat manis saat
malu-malu.
Kak Sinn: Kak Rimma!!
Yah, perempuan itu ternyata
bernama Rimma
Kak Rimma: hahaha, maaf,
maaf. ┐( ^ ͜ ^)┐
Kak
Sinn: baiklah, aku pergi.
-----------------------------
Aku
memandang tumpukan cucian dengan pandangan suram dan horror. Seakan tumpukan
itu sudah menjadi sarang tikus, sarang ular, dan saran jin beranak-pinak.
Aku: ok, aku akan mencucinya nan―
Seketika
itu aku merasa ada yang menarik bajuku dari belakang, aku pikir koloni tikus
yang bersarang di baju kotorku telah
bertransformasi menjadi raksasa dan menyerangku.
Tapi
ternyata aku mendengar suara manusia “Ayo latihan…”. Yah, dari situ aku sudah
mempunyai perasaan yang buruk tentang siapa yang datang.
Kami
sampai di halaman rumah. Di atas rerumputan hijau yang empuk dan hari yang
sudah gelap.
Kak
Sinn: Noi, kamu harus latihan
karena misi ini penting dan berbahaya―
Aku: oke, tapi tadi aku
menghitung poin-poin kesalahanmu. Satu. Kamu masuk rumahku tanpa ketuk pintu,
itu artinya nggak minta izin. Dua, kamu mengganggu acara beres-beres kerjaan
rumahku. Tiga―
Kak
Sinn: yaaahh, maaf. Sorry soal
itu. Maaf juga karena aku terlalu emosional di sekolah tadi.
Aku: itu memang sifatmu.
Kak
Sinn: oh, itu yang kamu bilang
setelah seseorang minta maaf dengan tulus, haaaah?? JDUG, JDUG(uwaaaa!! Dia
memukul-mukul kepalaku!!)
Aku: aaaahhh, iya. Aku maafkan.
Kak
sinn: oke. Itu baru pintar.
Aku: jadi, kapan mulai
latihan? Aku capek sekali
Kak sinn: pertama kamu harus
bisa mengeluarkan kekuatanmu untuk mengetahui kekuatan tipe apa yang kau punya.
Aku: jadi, kak sinn belum
tahu??
Kak sinn: tentu saja. Walaupun
aku yang mentransfer, aku Cuma memberikan energy pembangkit.
Aku: aku jadi pusing.
Kak sinn: sekarang kamu serang
aku.
Aku: serang―eehh?? Apa??
Kak sinn: cepat serang aku dan
jangan ragu-ragu.
Aku: tapi bagaimana―
Aku
tidak tahu maksudnya apa. Aku juga tidak berniat menyerangnya. Tapi, karena ini
latihan dan aku takut kak sinn mengamuk padaku, jadi aku mulai menyerangnya.
Aku
sering memukul dengan kepalan tanganku tapi kak sinn dengan mudah menangkisku.
Pukulan fisik memang tidak begitu sakit bagiku, entah mengapa. Terkadang aku
juga mengelak dari serangan kak sinn. Dan aku masih kebingungan dengan latihan
ini. Tapi, tiba-tiba kak sinn berhenti.
Kak
sinn: itu semua adalah kekuatan
fisikmu. Aku belum melihat hasil dari energy pembangkit yang ku berikan. Kalau
begitu, kau belum bersungguh-sungguh.
Tiba-tiba
dalam genggaman kak sinn muncul pedang yang sangat indah. Dia jadi tampak
begitu great, brave, and cool.
Aku:
a―apaa?
Kak
sinn: kalau kau tidak mau serius, biar aku yang mengawalinya. Kamu lihat kucing
itu? (dia menunjuk ke arah kucing belang di samping pohon) aku bisa menebasnya
dengan mudah kalau aku mau.
Aku
tidak mengerti kenapa dia jadi pembenci binatang seperti itu. Tapi, untuk saat
ini yang aku pikirkan hanya agar kucing itu tidak jadi korban kebuasan kak
Sinn.
Dengan
tenaga penuh dan tekad yang membara, aku maju menghadapi monster kak sinn yang
menyebalkan. Pedangnya terlihat berkilat
di tengah gelap malam. Lalu aku melihat kilasan cahaya yang lain di mata kak
Sinn. BLAAAMM!! Percikan bunga api tiba-tiba telah mengguyur dengan indah.
Aku:
apa itu tadi? Aku merasa seperti diliputi energy yang besar.
Kak
sinn tertegun tak percaya.
Kak
Sinn: itu dia! Itu dia! Itu kekuatanmu. Tipe yang langka, jenis explosion
penghancur. Daya serang kuat dan daya hancur besar, kamu bisa menggunakan ini
untuk pertempuran jarak dekat maupun jauh.
Aku:
haah?? Hebat! Hebat sekali!! Hahahaha!
Seketika itu, rasanya tulang-tulangku tidak bersendi.
Aku menjatuhkan diri di rerumputan dan dari situ aku memandang bintang-bintang
banyak membentuk konstelasi di langit. Aku mengatakan bahwa aku sangat capek
hari itu. Kak sinn tersenyum dan bergumam kalau dia juga sangat lelah. Lalu dia
duduk di rerumputan di sampingku, sama-sama memandangi bintang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar